Diposting oleh Rizka Novia | 2 komentar

Rezeki itu dari Allah, Tapi Tetaplah Berikhtiar




Semua rezeki yang ada, itu berasal dari Allah, karena Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Ada orang yang berusaha keras, siang dan malam, pagi dia keluar lebih awal dan pulang di senja belakangan, tapi rezekinya juga tidak seberapa banyak. Di sisi lain ada juga yang kelihatannya biasa-biasa saja, bahkan mungkin tidak berbuat banyak untuk mendapatkan rezeki, tapi ia malah bertaburan dengan rezeki.

Apa yang salah? Sebenarnya tak ada yang salah. Karena rezeki itu datangnya dari Allah. Dan, Allah memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sebagai manusia yang diberikan akal budi, kita tetaplah harus berikhtiar, berusaha untuk mendapatkan rezeki itu. Terlepas nanti apakah rezeki kita banyak atau tidak, itu dikembalikan kepada Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar. “Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil,” demikian kata motivator “The Golden Ways” Mario Teguh. Bangun pagi-pagi, kita berusaha, bertindak profesional, itu penting sekali untuk mengundang datangnya rezeki.

Di dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan tentang kisah mereka yang tidak terlalu “berkeras-keras amat” dalam mencari rezeki, tapi mereka mendapatkannya. Kasih ini tentang Nabi Musa dan Khidir yang terkait dengan simpanan harta yang dimiliki oleh dua anak yatim di tengah penduduk yang pelit.

Dalam surat al-Kahfi ayat 82, Allah swt., berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِن رَّبِّكَ وَمَافَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَالَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا 

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya, dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Harta simpanan orang saleh tersebut berada di sebuah kota, di mana penduduknya sangat kikir, dan tidak mau memberi makan terhadap Nabi Musa as., dan Nabi Khidhir as., sementara bangunan yang di bawahnya terdapat sebuah simpanan harta benda yang hampir roboh. Kemudian Nabi Khidhir as., membangunnya kembali, sehingga bangunan itu tidak roboh, kecuali setelah kedua anak itu dewasa dan dapat menjaga harta simpanan itu dengan sebaik-baiknya.

Nabi Khidhir membangun sebuah bangunan dengan tanpa mengharapkan ongkos dan upah sama sekali, atas perintah Allah swt., agar harta simpanan kedua anak itu dapat terjaga dengan baik. Harta simpanan itu sendiri merupakan rezeki bagi orang-orang miskin yang berada di tengah-tengah penduduk yang kikir itu.

Kisah yang dipetik dari al-Qur’an itu memberi kejelasan bagi kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Karena sebuah sebab dapat memberikan nilai terhadap musabab. Kita dapat menyaksikan al-Qur’an menceritakan kisah tersebut, kemudian diperkuat dengan kejadian-kejadian yang terpampang di depan mata kita, bahwa ada orang yang tidak berusaha, namun dia mendapatkan rezeki. Maka hal ini dapat memperkokoh keyakinan kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Namun dapat kita katakan, bahwa usaha itu merupakan keadaan dan hiasan serta pembungkus yang dapat memberikan nilai tersendiri terhadap rezeki. Sebab rezeki itu sendiri tidak datang dari usaha kita semata-mata.

Rezeki merupakan cakupan keagungan Allah swt., Kita lihat bahwa rezeki itu tidak datang dengan adanya usaha kita, dan dia juga tidak hilang dengan keinginan kita. "Barangsiapa yang memperhatikan perjalanan sunnatullah,” kata Al-Ghazali, “maka dia akan mengetahui bahwa rezeki itu datang bukanlah disebabkan oleh adanya usaha.”

Al-Ghazali yang juga menulis kitab monumental Ihya’ Ulumuddin itu menulis bahwa pada suatu hari, datanglah seorang yang telah kehilangan semangat kepada seorang hakim, lantas menanyakan tentang mengapa ada seorang yang bodoh, namun dia mendapatkan rezeki yang layak, sedangkan di sisi lain, ada seorang yang mempunyai otak cemerlang, namun tidak mendapatkan rezeki yang layak.

Mendengar pertanyaan itu, sang hakim menjawab sebagai berikut,

"Jika setiap orang yang mempunyai otak cemerlang mendapat rezeki yang layak, dan setiap orang yang bodoh tidak mendapatkan rezeki yang layak, maka akan timbul sebuah asumsi, bahwa seorang yang mempunyai otak cemerlang dapat memberikan rezeki terhadap temannya. Akibatnya, setelah orang lain tahu dan berpandangan bahwa yang dapat memberikan rezeki itu adalah temannya sendiri, maka tidak ada artinya usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut."


Jadi, kita haruslah yakin bahwa ikhtiar itu bukan penyebab datangnya rezeki, tapi rezeki itu datangnya dari Allah. Untuk mendapatkan rezeki, maka berusaha itu juga penting. Selagi tubuh kita masih sehat, kuat, maka berusaha keras itu penting sekali. Bangun lebih dan berusaha pada bidang yang kita minati, tentu itu akan memudahkan kita meraih rezeki

2 komentar: